Sabtu, 05 Desember 2009

* Asal mula Danau Toba ( Legenda )



Beginilah dilisankan oleh para tetua,

Di tano (tanah) Batak pada jaman dahulu adalah dataran yang gersang dan tandus. Kebanyakan penduduknya hidup miskin. Di sana ada seorang pemuda bernama Luhut, seorang anak yatim piatu yang hidup dengan bertani. Untuk mengisi waktu senggang, Luhut sering menjala dan memancing di tepi sungai.

Suatu hari, Luhut pergi lagi memancing ikan. Namun hingga sore menjelang malam Luhut belum juga mendapat seekor ikan pun. Namun sewaktu hendak bersiap pulang, Luhut melihat seekor ikan besar berwarna kuning emas yang indah di dalam sungai. Luhut meletakkan kailnya dan mengambil jalanya lalu menangkap ikan tersebut yang seolah tidak berupaya menghindar. Sesampainya di rumah, karena merasa iba Luhut tidak sampai hati untuk memasak ikan tersebut. Dia hanya membiarkannya di bak air lalu pergi beristirahat.

Esok harinya, seperti biasanya Luhut pergi mengolah ladangnya dari pagi buta hingga siang hari. Ketika pulang ke rumah untuk makan, alangkah terkejutnya dia karena mendapati makanan telah tersedia di dapur kecilnya. Dengan bingung dia mencoba bertanya dalam hati siapa kira-kira yang menyediakan makanan untuknya?.
Namun rasa lapar membuatnya lupa untuk mendapatkan jawaban sebab tanpa pikir panjang, dia memakan hidangan itu dengan lahapnya. Setelah selesai, Luhut kembali ke ladangnya kemudian ke sungai untuk memancing. Makanan masih bersisa ketika malam dia kembali ke rumah.

Kejadian aneh ini berulang lagi dan lagi hingga Luhut semakin penasaran dan berniat mengetahui siapa sebenarnya orang baik yang menyediakan makanan lezat untuknya itu.

Kemudian Luhut membuat rencana, dia seolah pergi ke ladang seperti biasa padahal bersembunyi untuk mengintip siapa orang tersebut. Ketika melihat asap mengepul dari dapurnya, perlahan dia mengendap-endap untuk melihat siapakah gerangan orang yang memasuki rumahnya dan memasak?.

Alangkah terkejutnya Luhut ketika mendapati seorang wanita cantik sedang asyik menanak nasi di dapur. Luhut lalu masuk ke dalam rumahnya dan mendapati ikan yang ditangkapnya tempo hari tidak ada di tempatnya.

Dia bertanya kepada wanita tersebut, “Adakah kau melihat ikanku?” Tanya Luhut dengan perasaan cemas. Mendengar pertanyaan Luhut, wanita terkejut dan tiba-tiba terisak. Luhut jadi bingung.

Setelah berkali kali ditanya, akhirnya wanita tersebut menjawab, “Sebenarnya akulah ikan itu.”

Alangkah terperanjatnya Luhut. Dia bagaikan tidak percaya.

Seekor ikan menjelma menjadi wanita cantik.

“Benarkah demikian?” tanya Luhut.
“Memang benar. Aku adalah ikan yang kau tangkap. Namaku Butet.” Jawab wanita tersebut.

Luhut tertarik dengan kecantikan wanita tersebut dan teringat akan kesepian hidupnya.

“Wahai Butet, aku di sini hidup seorang diri. Maukan kau menjadi isteriku?” tanya Luhut.

Wanita tersebut diam.

“Kenapa kau membisu?”, tanya Luhut lagi.

Setelah sekian lama membisu, wanita tersebut menjawab, “Aku akan menjadi isterimu, dengan satu syarat”, kata wanita itu.

“Apakah syaratnya?”
“Berjanjilah untuk tidak mengucapkan atau membuka rahasia tentang asal usulku, bahwa aku adalah seekor ikan dalam keadaan apapun.”
“Baiklah,” jawab Luhut.

Dan mereka pun menikah.

Luhut dan Butet hidup bahagia dan dikaruniai dengan seorang anak yang diberi nama Tigor. Tigor yang sudah cukup besar sering membantu mengantarkan makanan kepada Luhut ketika Luhut berkerja di ladangnya.

Suatu hari, sewaktu dalam perjalanan menghantar makanan kepada Luhut, tiba-tiba Tigor merasa sangat lapar. Kemudian dia membuka bungkusan makanan yang sebenarnya untuk ayahnya dan memakannya dengan lahap sekali sehingga yang tinggal hanya tulang ikan saja. Setelah selesai memakannya, Tigor membungkus sisa makanan tersebut seperti sedia kala dan tetap mengantarkan kepada Luhut.


Luhut melihat remah nasi di pipi kanan anaknya itu dan mengusap wajah serta kepala Tigor dengan penuh rasa sayang dan terima kasih.

“ Kau pasti terburu-buru demi mengantarkan ini untuk ayah” gumam Luhut dalam hati.

Namun Bukan kepalang marah Luhut ketika membuka bungkusan dan mengetahui makanan untuknya hanya tinggal sisa tulang. Didorong oleh rasa marah, Luhut tanpa sengaja telah melanggar sumpahnya dengan berkata,
“Sungguh rakus kau ini… dasar anak ikan!” kata Luhut sambil melayangkan tangan ke pipi anaknya Tigor.

Tigor ketakutan dan berlari lari pulang ke rumah. Ia sedih karena baru saja ayahnya mengelus pipi dan rambutnya dengan sayang tetapi menamparnya kemudian. Selain itu ada hal yang membuatnya lebih sedih lagi. Sesampainya di rumah sambil menangis, dia bertanya kepada ibunya, “Ibu, betulkah aku ini anak seekor ikan?”

Butet sangat terkejut demi mendengar pertanyaan anaknya itu. Suaminya telah melanggar sumpah janjinya.

Tiba-tiba awan hitam bergulung-gulung dan seketika itu juga, langit menjadi gelap. Kilat sabung-menyabung disusul petir sambar-menyambar. Suasana semakin cemas karena angin bertiup sangat kencang kemudian, diikuti dengan hujan lebat dan badai yang bergelora.
Butet dan Tigor menghilang dari pandangan. Dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air yang deras. Air itu terus mengalir sehingga seluruh kawasan hingga lembah sekitar menjadi tergenang dan tenggelam menjadi sebuah danau.
Danau itu awalnya disebut Danau Tuba, yang maksudnya danau yang tak tahu mengenal kasih. Lama kelamaan, nama Tuba berubah menjadi Toba karena aksen setempat. Jadilah kini, danau tersebut bernama Danau Toba.

Danau Toba terkenal ke penjuru dunia hingga ramai di kunjungi wisatawan asing dan kebanyakan mereka yang telah melawat tempat tersebut mengakui Danau Toba sebagai danau yang terindah di dunia.




(sebelumnya sudah di terbitkan di blog saya Cahyangkasa)

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More